Skip to main content

Perintah Agama vs Pemikiran


Serius dikit lah ya biar berisi blog ini :D. Kasus LGBT ini menjadi contoh yang baik untuk mengetahui pentingnya beragama dan membatasi "pikiran". Bagaimana beragam pendapat keluar, pro-kontra terhadap larangan LGBT. Alasan yang kontra banyak sekali misalnya: 


- Cinta itu hak asasi manusia, kenapa harus dilarang, diatur?
- Mereka juga tidak minta dilahirkan seperti itu
- Gak kasihan apa? Coba kalau kamu dilarang jatuh cinta sama pacarmu?
- dan lain sebagainya

Yang faktanya (tentu fakta ini berlaku hanya bagi yang beragama atau yang percaya) Jaman dahulu kaum Sodom biasa menjadi gay dan lesbian, dinasehati Nabi Luth agar tak berbuat demikian. Gak mempan lalu Tuhan mengazhab mereka karena mereka telah melampaui batas.

LOGICAL FALLACY
Argumen itu selama dia memuaskan pikiran dia menjadi nampak benar. Ketika dilempar pertanyaan-pertanyaan diatas maka bisa jadi pendapat kita jadi berubah. Padahal pertanyaan-pertanyaan semacam itu hanya kesalahan berpikir yang digunakan untuk memenangkan argumen. Mari kita ganti dengan pertanyaan lain semisal:

- Kalau babi haram terus gimana dong dengan mereka yang sudah beternak babi? gak kasihan? padahal itu mata pencaharian dia satu-satunya.

Coba ditelaah, argumen seperti itu namanya Appeal to Emotion (pake perasaan untuk memenangkan argumen). Haram mah tetep haram kan aturan agama, nah setelahnya barulah kita cari jalan keluar menghadapi status babi haram. Bukan malah berusaha menghilangkan label "haram" pada babi. Untuk referensi bisa kunjungi situs logicalfallacy berisi kesalahan-kesalahan berpikir dalam berargumen.

BATASI
Nah itulah bahayanya "pikiran" ketika tak dibatasi. Dia bisa berpendapat membolehkan sesuatu yang Tuhan saja melarang. Terus ada yang bilang "Tapi kan Tuhan menyuruh kita untuk berpikir?" nah itu juga kesalahan berpikir. Memang Tuhan memerintahkan kita untuk berpikir tapi tidak semua hasil pikiran kemudian menjadi benar. 

Itulah pentingnya agama. Adanya agama adalah untuk mengatur kehidupan manusia. Rambu-rambu telah dibuat supaya hal-hal melenceng kembali pada jalan yang benar. Kadang terkesan berat karena banyak aturan. Padahal perasaan "banyak aturan" itu muncul karena kebiasaan kita yang tak mengikuti aturan. Lalu jangan meminta untuk mengubah aturan tapi ubah cara pandang, cara berpikir, kebiasaan kita agar bisa menerima/sesuai aturan. 

Semua butuh proses, tapi tidak dengan menantang Tuhan.


Comments

Followers