Labels

Monday, May 8, 2017

0 Ujian Kebahagiaan

Ya.. kata orang "people change" ia bisa berubah-ubah seiring berjalannya waktu. Tapi tidak sebanyak ini ketika kawan yang dahulu bersama-sama menjaga kesabaran pada akhirnya gugur satu persatu. Ujian hidup itu nyata. Mudah sekali membolak-balikkan ide, semangat, emosi, yang semuanya memiliki kesamaan, berawal dari keinginan. Unik memang ujian yang satu ini. Ujian kebahagiaan yang timbul karena terpenuhinya keinginan. 

Oleh kesedihan orang bisa memaksa dirinya tegar meski diluapkan dengan tangisan. Oleh kekecewaan orang bisa berlatih lapang dada hingga pada titik melakukannya. Tapi oleh kebahagiaan? Bisa apa kita kalau keinginan terpenuhi? Senang luar biasa(?). Lalu bagaimana kalau rasa senang itu tak tepat pelampiasannya? banyak yang ngomong jangan buat keputusan saat benar-benar sedih atau benar-benar senang, apa itu karena ada bagian yang dilemahkan dari diri kita? pemikiran, ide, logika, atau iman barangkali? Nah.. kalau bicara sebab, apa benar penyebab rasa senang itu baik atau bisa jadi sebenarnya tak baik?

Hmm.. menarik...

Iya sih.. sabar itu bikin gregetan, tapi setiap kali kalimat itu kita baca dalam sholat. Tunjukilah kami ke jalan yang lurus. Karena mengimani kami masih memegang harap dan kalau tak terpenuhi pun kami masih mengimani kok sebab semua atas ijin-Mu :)

Engkau Maha Mendengar

Sunday, April 9, 2017

2 Memperbaiki atau Merusak?

Fenomena akhir-akhir ini dengan semakin ramainya isu Agama memunculkan pendapat-pendapat yang menurut saya perlu dicermati.

1. Pilkada Muslim - Non Muslim

Isu yang lalu membesar dan ramai diperbincangkan dipicu oleh orang yang tidak sensitif dengan masalah golongan. Sudah saya tuliskan sebelumnya bahwa ada golongan yang benar-benar memperbaiki dan ada juga yang sekedar menolak.

2. Pernikahan Dini

Salah satu isu yang dikaitkan dengan agama adalah ajakan untuk menikah daripada berpacaran. Contohnya ada dari anak seorang ustadz. Menariknya beberapa waktu yang lalu saya menemui artikel yang didalamnya membahas bahwa ajakan itu dinafikan dengan alasan pernikahan tidak segampang/sesederhana hanya bermodal cinta tapi harus banyak persiapan ini-itu, bagaimana merawat anak, pendidikan, dan sebagainya. Lalu alasan kenapa menikah untuk menghindari maksiat (termasuk perzinaan) dinafikan dengan perlunya pendidikan tidak dengan menyuruh menikah.

Membaca itu jadi bertanya-tanya, Kenapa harus dinafikan? Menikah dini bisa menjadi solusi. Pendidikan juga bisa menjadi solusi. Menikah tidak berarti seketika menjadi ibu-bapak lalu membesarkan anak, saya rasa tidak seremeh hanya untuk halal memenuhi kebutuhan biologis seperti itu. Aktivitas berpacaran juga bisa dilakukan dalam status pernikahan malah lebih aman dari fitnah juga lebih dewasa karena sudah memiliki keterikatan. Tidak perlu menafikan, tawarkan solusi tapi jika ada solusi lain yang juga solutif maka tak perlu dinafikan. 

3. Zakir Naik

Kedatangan beliau di Indonesia ditanggapi beragam ada yang Pro ada yang Kontra. Uniknya meskipun dakwah yang beliau sampaikan sama sekali tidak ditutup-tutupi bahkan gampang sekali dilihat di media sosial/youtube tetap saja ada yang menilainya dengan penilaian yang buruk. Isi dakwah beliau positif, terbuka tanya jawab, masing-masing memiliki pilihan untuk datang atau juga tidak ke ceramah beliau lalu kenapa ada yang kontra? Tidak setuju dengan beliau ya tidak perlu dilihat/didatangi/didengar mengapa harus menyebar kebencian?

Isu keberagaman? Kalau dakwah beliau dianggap memecah keberagaman lalu bagaimana dengan umat manusia dari awal yang didakwahi oleh para Nabi dan Rasul? Ada perbedaan yang jelas antara dialog untuk mencari manfaat dengan yang sekadar membicarakan isu agama untuk meremehkan atau bahan guyonan.

Membuat ragu? Tidak perlu didengarkan. Itu seperti halnya orang yang tidak suka keramaian lalu menyuruh orang-orang disekitarnya untuk berhenti dan diam, padahal itu Terminal. Beliau Zakir Naik sedang berdakwah dan dakwah tidak hanya berisi hal yang menyenangkan/menenangkan didalamnya juga ada peringatan dan konsekuensi.

Banyak yang mendapat manfaat dengan ceramah Zakir Naik, saya rasa tidak ada yang dirugikan karena isinya juga positif tidak menebar kebencian. Tapi barangkali bakal dilihat berbeda bagi mereka yang berharap semua harus sesuai dengan egonya. Bukan pada apa yang seharusnya tapi sekadar keinginan saja.


Sunday, March 12, 2017

2 Bandar Lampung - Pulau Condong


Menuliskan cerita Lampung menghadiri pernikahan kawan. Halo saya dimasa depan jika menemukan tulisan ini saya ingin menuliskan cerita dibalik foto-foto di bawah ini. Diawali dengan tidur jam 02.00 sabtu di kosan kawan lalu bangun jam 3 berangkat ke Bandara untuk terbang ke Bandar Lampung bertiga dengan kawanmu. 

Sesampainya di Lampung kalian bertiga mencari-cari cemilan ke lantai dua menaiki eskalator yang mati. Dengan gaya dibuat-buat seperti menaiki eskalator sampai keatas dihadang 3 keamanan Bandara yang langsung menghampiri, "Pak pak.., mau kemana pak?" dilihat orang-orang sekitar. Ternyata itu one way alias tidak boleh keatas Hahaha... . But its ok.. Catatan untuk pihak bandara agar memasang setidaknya rambu jika memang tidak diperbolehkan, remeh tapi siapa yang tahu ada tangga ke lantai dua tapi tak boleh menggunakannya?

Setelah makan, dan perjalanan bermodal optimis (masuk-masuk pemukiman karena jalan utama macet) sampailah ke tempat menginap. Ada apa disini? ada lampu yang hampir dipatahkan, ada donat tak bertuan dimakan rame-rame, ada masuk lewat jendela karena penginapan terkunci. Perjalanan selanjutnya adalah City Tour malam-malam dipandu orang yang sebulan lebih lama di Lampung dan jalan-jalan ke Pulau Condong Sulah keesokan harinya. Ada makan bareng air tumpah, ada salah buka mobil. Dan ditutup dengan telat check-in balik ke Jakarta. Hujan-hujan, mobil dikebut, tak sempat hanya berharap delay. Sesampainya di bandara? Alhamdulillah delay dua jam :D

Friday, March 3, 2017

0 Bahas Manga "Hello, I was your friend"

Sedikit berbagi cerita tentang Manga. Bagi yang suka Manga tentu bakal menemui banyak cerita yang akan saya tuliskan. Tapi bukan ceritanya hanya ada drama yang tersirat menurut saya. Cerita ini berkaitan dengan manga dimana tokoh utama selalu ceria (setidaknya nampak ceria) tak pernah sedih/berkeluh kesah. Yang ada hanya main, heboh, seru-seruan dengan kawan-kawannya. Memiliki tujuan menjadi yang terkuat (One Piece, Naruto, Black Clover, dsb) atau melindungi kawan. 

Nah biasanya sembari hidup bersama yang kental aroma persahabatan, kawan-kawan si Tokoh ini juga mulai membangun impiannya masing-masing, mulai beranjak ke kehidupan selanjutnya. Atau setidaknya begitulah alur hidup manusia pada umumnya. Si Tokoh utama selalu ikut senang dengan capaian kawan-kawannya. Ada yang berhasil dengan materi, ada yang berhasil dapat pasangan, ada yang berhasil dalam karir, atau ada yang berhasil mendapat kekuatan super. Dia selalu memberi selamat, ketawa ketiwi, atau sampai pesta.

Nah... drama tersirat itu bahwa si Tokoh ini dari awal memang tak ada tujuan selain berjuang bersama kawan-kawannya melindungi desa, melindungi manusia. Namun, yang tidak disadari adalah ia mulai kehilangan kawan-kawannya karena kehidupan baru mereka. Semua kilas balik kebersamaan sebelum kawannya sukses diputar. Ketika desa sudah aman, dia menjadi yang terkuat, lalu tiba-tiba sekarang sepi, makan ramen di toko langganan melihat kursi-kursi yang dahulu penuh keceriaan kawan-kawannya sekarang kosong. Untung masih ditemani sang penjual ramen. Memang pada akhirnya tidak ada pilihan lain baginya kecuali ikut senang melihat kawan-kawannya sukses. Lalu si Tokoh menahan dirinya untuk tidak ikut campur urusan kawan-kawannya membiarkan mereka bahagia dengan capaiannya.. 

Itu dia dramanya, entah pembaca-pembaca manga lain apakah bisa menangkap situasi ini atau tidak. Hanya ketika membaca manga, saya pribadi kadang terbawa menikmati situasi yang dibangun didalamnya maka ketika ada hal semacam ini jadi mengganjal.

"Hello, I was your friend when you are single/poor/etc"

Wednesday, February 22, 2017

1 Labuan Bajo - Pulau Rinca - Pulau Kelor


Menyambung tulisan sebelumnya selain ke Wae Rebo kami manfaatkan sisa libur (cuti) untuk explore sekitar Labuan Bajo tempat kami menginap. Selepas perjalanan Wae Rebo kami berencana untuk ke Pulau Padar, Pulau Rinca, Pulau Kelor. Masih dengan modal tanya-tanya akhirnya kita deal dengan pemilik kapal menuju tempat tersebut. Menuju Pulau Padar dari Labuan Bajo selama -+ 4 jam. Sayangnya... musim yang tidak tepat setelah 2 jam perjalanan dengan gelombang besar, gerimis, angin kencang akhirnya sang kapten kapal memutuskan untuk putar haluan. Akhirnya kami menuju ke Pulau Rinca dan Pulau Kelor. Masih hutang Pulau Padar :D

Monday, February 20, 2017

1 Setengah Resolusi 2017 - Wae Rebo

Awal tahun saya buat resolusi 2017 yang belum pernah saya lakukan di tahun-tahun sebelumnya, yaa.. buat seru-seruan aja kayaknya asik seperti apa rasanya kalau tercapai :D. Hanya dua yaitu Rinjani dan Wae Rebo. Karena sisa cuti hangus di awal maret sementara Rinjani masih ditutup untuk segala bentuk pendakian maka dipilihlah Wae Rebo.

Berbekal catatan perjalanan hasil gugling estimasi pergi-pulang ke Wae Rebo lihat harga trip mahal-mahal maka jadilah backpakeran saja plus agar bisa lebih menikmati jalan-jalan. Berikutnya adalah ajak kawan-kawan. Seperti yang diperkirakan sebelumnya tak akan ada yang ikut maka setelah menunggu hingga mepet keberangkatan benarlah tak ada yang tertarik haha.. kecuali seorang kawan yang berdomisili di NTT saya kabari berniat tanya-tanya ternyata mau ikut. Meeting point adalah Bandara Komodo, Labuan Bajo.

Sunday, January 1, 2017

0 Mencari Perhatian

Sudah biasa sebenarnya terjadi di lingkungan sekitar. Perihal mencari perhatian dalam bentuk apapun untuk apapun. Boleh dikatakan juga aktivitas mencari perhatian ini dengan bersandiwara karena intinya hampir sama, "berpura-pura". Tidak bermaksud bernegatif thinking, hanya mengamati keanehan orang disekitar yang tiba-tiba berbeda tingkah laku kepada seseorang dibandingkan dengan kebiasaan berperilakunya sebelumnya. Misalnya:

Dalam pekerjaan. Ketika ada anak magang/pegawai/kontraktor yang rupawan, maka sekonyong-konyong seperti magnet semua berusaha mendekati. Bertanya kabar, bertanya kesulitan-kesulitan, berada didekatnya. Ketika tak ada, ia menjadi perbincangan di warung-warung kopi. Di dunia maya. Tak selesai sampai disitu, ketika yang bersangkutan memiliki sosial media maka tiba-tiba menjadi akrab. Entahlah apakah memang seperti itu kalau ia seorang ekstrovert atau tidak, yang jelas menjadi berbeda intensitas keaktifannya. Begitu juga ketika ada petinggi datang semua mendadak "sempurna". Pernah suatu saat saya mendapat cerita " Jadi tadi ada petinggi datang, eh langsung semua pada sibuk sendiri mas, pegang inilah pegang itulah padahal mah gak perlu juga".

Oiya tentang berkomunikasi, jenis keakraban ini bermacam-macam. Ada yang tanya-jawab seperti biasa memperpanjang orbrolan ada juga yang sampai mencoba mengikuti/meniru dalam berperilaku seperti sedang membangun kesan "klop/sama".

Yaa.. tidak mau menilai apa-apa. Cuma jadi pertanyaan, apa tidak terpikirkan suatu saat pasti ciri khas perilaku diri/sifat akan keluar? Tak mungkin terus menerus bersandiwara apalagi dalam berperilaku. Apa tidak capek? Bisa jadi karena "demi mengejar sesuatu" atau whatever itu alasannya. Tapi itu artinya dia sedang membohongi yang bersangkutan secara terus-menerus hingga dibuatnya percaya. Beraaat... tega sekali ya? Lalu kalau misalnya sedang tak terkontrol dan keluar sifat aslinya apa mau bilang, "Sebenarnya dari dulu gini gini gini". Waduuuh.. sinetron bangetlah haha :D

Saya mengamati fenomena ini, disinilah letak perbedaan antara yang menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah dengan yang menaruh harap pada manusia. Mencari perhatian manusia banyak berakhir sandiwara dan energi banyak diolah karenanya. Mencari perhatian Yang Maha Kuasa berlaku apa adanya dan berhati-hati dengan penilaian dari-Nya. Simpel kan konsepnya? lalu tinggal berjalanlah dimuka bumi dengan rendah hati, menebar kebaikan, dan seterusnya dan seterusnya... #cmiiw

Saya yang mana ya? entahlah.. mari saling mendoakan.. #bercermin

Oiya biasanya ada yang menyimpulkan: "berarti harus sembarangan dong terhadap petinggi? masa bodoh gitu?". Saya rasa itu mendramatisir saja seperti halnya "Janganlah terlalu memikirkan dunia, akhirat yang lebih kekal jangan dilupakan" lalu ditanggapi dengan "berarti gak usah kerja dong? makan pahala? sini duit lu buat gw!". Ahh.. silahkan menilai sendiri...


Wednesday, December 28, 2016

0 Pendakian Ceremai (3078 mdpl)


Beberapa hari yang lalu kepenatan kerja membuat saya ingin sekali pergi ke suatu tempat yang damai untuk menyendiri. Rinjani pun menjadi pelampiasan, setelah mencari-cari informasi transport dan pendakian solo saya mulai mengumpulkan logistik. Beberapa hari sebelum keberangkatan rencana itu gagal total, tiba-tiba ada kawan yang mengajak saya ke Ciremai. Langsung saja karena Ciremai sendiri saya belum dan mumpung ada kawan maka bergantilah rencana itu menjadi pendakian Ciremai 24 - 26 Desember 2016. Informasi yang saya dapat, untuk mendaki Ciremai ini ada 3 jalur: Linggarjati, Palutungan, Apoy. Linggarjati katanya paling curam jadi otomatis tak dipilih. Palutungan jalur paling landai tapi paling panjang maka langsung saja memilih jalur ini.

Followers