Skip to main content

Ice Cream (kesatu)

Riiiiiiiiiingg riiiing.

Ah siapa ini... membuyarkan kedamaian secangkir kopi hangat di udara Kopeng yang sedingin ini. Sedari tadi aku memang tak bergeming dari gazebo ini. Tempatnya benar-benar strategis, tinggal melihat kedepan sudah diberikan pemandangan kota Magelang dari atas. Tentu bukan gedung-gedung tinggi bertingkat, aku tak suka hal itu. Justru hijau sawah, suara angin, bau pedesaan, lalu lalang petani, ocehan anak kecil berlarian sana kemari adalah penghiburku dikala penat. Ditambah lagi gunung Sumbing, Merbabu, dan Merapi yang terlihat jelas dari sini rasa-rasanya tepat sekali untuk melupakan kepenatan kerja kantoran.

      "Assalamualaikum, halo..?", sambil membenarkan posisi duduk yang mulai pegal. 

      "Nak Dion?", Sahut suara diseberang sana. Rasa-rasanya suara ini pernah kudengar namun tak yakin benar kapan dan dimana tepatnya.

      "Ini ibunya Fifi, inget kan? Fifi temen kuliah nak Dion dulu", sahutnya.


Deg... Seketika ingatanku membuka lembaran memori yang dulu pernah tersimpan. Memori yang sekadar mencarinya saja aku sudah tak mau. Ah benar saja, sudah lama sekali aku tak bertemu Fifi. Rasanya enam tahun sudah tak pernah bertemu maupun sekadar berkomunikasi.

      "Ohh... iya iya, ada apa tante?", tanyaku penasaran mencoba mengorek sebab. 

Enam tahun bukanlah waktu yang singkat, cukup bagi seseorang untuk melupakan sesuatu dalam kenangannya. Apalagi sudah bertahun-tahunaku bertemu dengannya terakhir kali .

      "Fifi sakit. Sekarang sedang dirawat di RS. Soecipto", terangnya.

      "E... Fifi sakit tante? sakit apa? dan sejak kapan Fifi dirawat?"

Aku tak mengerti. Cemas seakan menyergapku tiba-tiba begitu mendengar kabar Fifi sakit. Aku masih tak ingin membuka kembali memori yang telah lalu. Memori itu harus lenyap. Bahkan memori tak seharusnya ada. 

Enam tahun lalu, bersamaan dengan berakhirnya pendidikan beasiswa kami di Jepang, Fifi mengucap kalimat perpisahan yang memulai semua ini,

      "Yon, dua tahun sudah kita bersahabat. Pada awalnya aku tak mengenalmu, begitu pula kamu padaku. Kita menjalani suka duka disini, cari makan, jalan-jalan, dimarahi dosen, senang karena reward dosen, punishment bareng, hingga ngamen sekadar mencari penghasilan tambahan selalu kita lalui bersama..."

Aku hanya terdiam mendengar apa saja yang ia katakan. Kala itu kami berdiri di tepi jalan memandang Tokyo Imperial Palace. Aku memegang Black Sesame Ice Cream sementara Fifi dengan ice cream kesukaannya Yokomon Ice Cream .Ya... kami mencoba memaksimalkan waktu tersisa sebelum pulang ke Tanah Air.

      "Engkau bermain akustik, aku bernyanyi. Masuk Cafe satu ke cafe yang lain. masih ingat Carrying You adalah lagu yang sering kita nyanyikan kala itu. Aku juga masih ingat pertama kali menjejakkan kaki di sini, kau menghampiriku dengan sikapmu yang masih malu-malu  mengajakku dan sejujurnya sekaligus mengajariku serunya jalan-jalan. 'Fi, jalan-jalan yuk!, aku nemu situs nih, katanya sih 10 tempat yang wajib kamu jelajahi di Jepang' katamu dan setelah itu kita jelajahi semua tempat wisata itu dan tempat ini pun Tokyo Imperial Palace, tempat kesepuluh, sekaligus akhir dari perjalanan kita."

Aku masih tak tau apa yang Fifi coba ingin katakan.

      "Yon..", Fifi memandang dalam ke arahku.

Matanya berhenti sejenak menatap. Rasanya kali ini dia benar-benar sedang serius, tak mungkin aku tanggapi dengan bercanda seperti biasanya.

      "Ice cream-nya enak, tambah lagi dong. Hihihi..", wajah seriusnya mendadak berubah memasang senyum. Kata orang wanita itu unik karena ketika dia tersenyum ikhlas padamu, maka kau akan menemukan sosok yang begitu menawan.

      "Asem, kirain mau ngomong apaan, serius banget kata-katanya! Sialan kamu Fi..!". Salut.. salut.. kali ini aku berhasil dibuatnya jengkel.

      "Hahaha.. ngarep banget kamu Yon!, Biasanya siapa sih yang suka gitu hahaha... Emang dikira apaan?", Fifi masih puas dengan tawa kemenangannya.

Spontan aku membalas,

      "Ya apa kek, mau gak jadi kekasihku atau apa gitu"

ups...

Seakan semua berhenti bersamaan dengan kalimat terakhir yang aku ucapkan. Kami saling tatap, tak salah lagi kali ini kami tak sedang bercanda. Fifi juga tak sedang tertawa. Momen yang aku sendiri tak tau harus bagaimana setelahnya. Hanya menunggu apa responnya.


Comments

Followers