Skip to main content

Posts

Meski satupun

Lebaran Ramadhan 2016 kali ini berbeda. Tak satupun yang saya temui kecuali kerabat dekat dan tetangga kiri-kanan. Selebihnya hanya berkeliling kesana-kemari. Menaiki motor tua yang setibanya disana ternyata menjadi rumah laba-laba sebab lamanya ditinggal merantau di ibu kota. Pergi ke SMA Negeri 1 Magelang, Taman Cempaka, Puri Asri, Pecinan, Alun-alun, SDIT, Sawah, Badakan, Lapangan Rindam, Tukang Cukur Rindam, Nasi Goreng Rindam, Stadion, UNTID, Kyai Langgeng, Menowo, dst... ini.. memori SMA :)

Tak habis pikir

Saya tak habis pikir dulu pernah lihat teman saya waktu SMA menyatakan rasa sukanya ke wanita yang dicintainya tapi tak menuntut apa-apa. Sekadar menyatakan lalu selesai. Saya tak mengerti apa maksudnya melakukan hal itu. Sampai pernah suatu hari mengalami sendiri dan malah jadi bingung ketika lawan bicara banyak mengirim tulisan rasa sukanya dan saya merasa "Wew.. sampai segitunya ya?". Tentu tak seperti itu hanya saja intinya seperti itu. Tak habis pikir adalah yang bersangkutan sudah memiliki pasangan dan alasan melakukan itu adalah "Daripada disimpan bertahun-tahun lamanya, dengan begini jadi lega". Hmm.. oke... Lalu kesempatan itu saya sisipkan penjelasan tentang "Tidak Berpacaran". Tanggapan yang tidak saya sangka adalah pertanyaan "Memang ada orang yang tidak pacaran?"

Sama

"Ngga aku kira aku dan Tia punya pola pikir yang sama. Tau kan kadang-kadang kita suka merasa pemikiran, pandangan atau apalah itu ternyata ada di orang lain entah lewat kita berbincang dengannya atau sekadar mengamati?" Kadang sih.. "Naah! itu yang aku rasakan kepada Tia" Cieeeee.. yaudahsih datangi dia berani gak? atau kalau kamu gugup berada dihadapannya ya langsung aja ke rumahnya atau mau lewat perantara? aku punya kenalan ustad nih hehe.. "Itu dia masalahnya Ngga. Setelah bertahun-tahun dulu waktu masih Semester 5 aku baru yakin ternyata dia sudah menyukai orang lain. Saat itu aku mundur Ngga. Tak mudah ternyata, semester 6 aku baru bisa lepas darinya. Salahku juga sih kenapa waktu itu terlalu penasaran haha.." Salah? kenapa salah? memang masalahnya dimana? "Di awal sudah aku katakan. Pemikiran kita mirip sekali bahkan dalam memandang hal remeh sekalipun." Teruuuuuus...? By the way, aku lagi dengerin orang curhat ...

Pesan lewat lagu

Masing-masing orang sudah terbiasa dengan musik/lagu. Ia sering diputar di radio-radio, juga di film-film sebagai bumbu. Situasi sedih misalnya kemudian diputar musik yang "menyedihkan" menambah suasana semakin sedih lalu sayup-sayup terdengar lagu berlirik sedih untuk semakin memantapkan suasana. Begitu juga untuk situasi yang lain bahagia dan semacamnya. Namun kalau ditanya atau disuruh menyanyi saya paling gak bisa karena yang saya nikmati dari lagu adalah musiknya, nadanya, bukan liriknya. Mungkin karena saya memahami emosi ketika mendengar lagu bukan dipengaruhi oleh liriknya tapi nada-nya, jadi tak terlalu tertarik dengan apa yang sebenarnya diucapkan si penyanyi. Maka saya heran kalau ada yang menyampaikan pesan lewat lagu sampai nangis-nangis misalnya. Bagi saya itu terlihat tak serius menyampaikan pesan. Sebab selain pesan ia juga memikirkan nada-nadanya, panjang-pendeknya kalimat, kapan berhenti juga ketukan dan sebagainya. Keseriusan macam apa kalau pesan di...

Yang aneh kita atau mereka?

Nemu istilah baru bagi saya "ambivert", lalu cari tahu apa itu dan ketemulah artikel tentang kepribadian. Baca yang introvert tentang ciri-ciri orang introvert ada poin menarik. Sebelumnya saya pernah ketemu dengan orang "setipe" hanya bedanya kalau sudah nyambung dia terlalu banyak bicara sampai membicarakan hal-hal yang mungkin gak penting bagi orang lain tapi itu jadi pikiran kita. Cara pandang kami ternyata mirip atau bisa dibilang sama. Oke kembali lagi ke ciri-ciri orang introvert di artikel itu ada beberapa tapi dua yang saya kutip disini: Tidak bisa diajak bercanda/selera humor rendah. Hmm... hasil obrolan kami, bukan selera yang rendah justru tawa kami dipicu oleh humor yang tak biasa. Kalau cuma lelucon semacam "Ah lu kayak metromini, suka nelat" lalu ketawa, dimana letak lucunya? Hal-hal yang menggelitik bagi kami sering muncul dari joke spontanitas, cerdas, dan tak dibuat-buat/maksa.  Jarang banyak bicara, sekali bicara langsung gak ny...

Gunung Gede (2958 mdpl)

Butuh piknik kata orang-orang. Oke! laksanakan! Berawal dari ngobrol-ngobrol biasa tentang keinginan naik gunung yang biasanya sering gak jadi. Cuman, gak asik kalau apa-apa selalu berakhir wacana. Maka dengan banyak kebingunan disana-sini, saya yang belum pernah naik ke Gede jadi koordinator pendakian. Entahlah kenapa bisa demikian dan bisa dibayangkan bagaimana bingungnya ditanya ini itu tentang Gunung Gede ditambah peserta yang belum kenal sama sekali kecuali beberapa. Jarak yang jauh memaksa komunikasi hanya via Whatsapp. Polemik demi polemik dijalani dengan penuh kebingungan. Ah nevermind...

Dalam Pelukan-Mu

Sederhana saja. Jalan-jalan menikmati pemandangan lalu berhenti sejenak sekadar duduk-duduk dibawah matahari yang tak terlalu terik berpayung pohon rindang. Ditemani mp3 favorit melepas tanya yang sudah banyak menumpuk. Tak sepenuhnya melepas hanya memaklumi ketidakmampuan diri menjawab: Kenapa? Kenapa? Kenapa? Pepohonan dan hewan itu nampak damai. Ah masak? Bagaimana jika ternyata mereka saling membinasakan? Kenapa ada mekanisme pertahanan diri jika mereka hidup damai? Dan kenapa hal semacam itu dipertanyakan? Kenapa? Bukankah hal itu sudah mafhum? Seperti apa yang seharusnya? Kenapa menjadi tak sama padahal mendamaikan dan menyelamatkan? Ahh... Pada akhirnya lantunan ayat-ayat Al-Quran lah yang mengusir tanya... :)

Followers