Skip to main content

Posts

Bermain cat air

Bermula dari kebosanan rutinitas weekend melihat lukisan cat air di instagram, berhasil membuat saya tertarik mencoba. Bagi saya, satu cara untuk tahu apa hanya keinginan sementara atau memang tertarik adalah dengan membiarkannya lama mengendap. Jika mampu bertahan lama atau bahkan sangat lama maka pantas dipertahankan  berarti memang tertarik. Ya intinya setelah sekian lama, saya masih suka. Beli cat air dan kertas khusus yang ketika si mbak penjual nanya dan menjelaskan panjang lebar saya cuma bisa berpura-pura paham dan menyambung tanya agar bisa terus mendengar ia bicara (nggak deng) . Mengangguk sajalah, selesai syarat mendengarkan hehe...  Salah beli. Namanya tak paham, sesampainya di kos ternyata salah beli. Jenis cat air yang bakal sulit untuk mereka warna. Tapi sudah dibeli, kecewa tak mengubah apapun. Mencari cara lewat Youtube, lalu mencoba... belajar:

Sembilan Tahun

Tulisan ini didedikasikan untuk pertemuan saya dengan murottal favorit setelah sembilan tahun pencarian dan meski sebenarnya sudah putus asa. Ini tidak penting sih hanya ingin menulis saja. Dahulu kelas 2 SMA saya pernah mendengar bacaan murottal Mishary dari seorang kawan. Langsung suka dan langsung saya copy ke HP biar kemana-mana bisa dengar. Seiring dengan itu, banyak video youtube bacaan mishary yang saya download. Jamannya ngenet di warnet, biasanya sambil baca komik One Piece atau Naruto sambil menunggu selesai download.

Bosan

Semakin kesini semakin banyak berita yang cukup menggangu. Korupsi, penistaan, penganiayaan ulama, fitnah, pembelaan LGBT, fenomena pelakor, kenakalan remaja, dan sebagainya. Lalu perilaku-perilaku berebut dunia, tahta, perihal harga diri, kepantasan, iri, dengki, penghinaan, balas dendam, dan lainnya.  Kenapa tidak selesai-selesai ya? ketika ada nasihat ada saja yang melawan, keduanya menyampaikan argumen-argumen yang benar atau terkesan benar. Tak akan pernah berakhir jika memang bukan kebenaran yang dicari. Meninggikan ego.

Kilometer Nol Indonesia

Sabang - Aceh (8 - 10 Februari 2018). "Minggu depan saya mau ke Sabang - Aceh, baru kepingin sih tapi kayaknya jadi", begitu saya memberi info ke kawan-kawan. Sedikit maksud mengajak namun optimis tidak akan ada yang tertarik. Bosan dengan aktivitas tiap akhir pekan, kepikiran trip ke Sabang. Lalu cari informasi dari teman kantor asli Aceh. Iklan di instagram siapa tau ada yang mau ikut, meski sudah bisa ditebak sih hasilnya karena itenerary, persiapan, dan tiket hingga H-1 saja belum disiapkan jadi ya siapa yang tertarik hehe... Tapi disitu menariknya (bagi saya), karena memang tujuannya untuk bersantai melepas kepenatan jadi kenapa harus repot? Pada akhirnya saya hanya membawa tiket, sandal jepit, dan 1 set baju ganti untuk perjalanan 3 hari itupun dipersiapkan malam hari sebelum keberangkatan. *Btw saya sempat mencuci sekali di Penginapan hehe.. HARI PERTAMA. Sampai Sabang dari Pelabuhan Balohan bisa menyewa motor untuk berkeliling pulau. Menyusuri Jalur Barat...

Repot sekali

Bekerja di lingkungan yang bersentuhan dengan proyek sering bertemu orang-orang hebat. Antusiasme mengejar keuntungan mereka begitu tinggi. Semakin terbiasa dengan obrolan mengejar keuntungan itu menjadikan saya berpikir sebenarnya buat apa uang itu nantinya? Seseorang yang barangkali tanggungan menyekolahkan anak sudah selesai sebab telah bekerja semua misalnya. Lalu buat apa ya kira-kira uang itu? Bagi yang bergerak dibidang sosial atau punya misi ingin membuka lapangan pekerjaan atau menjadi jalan rezeki orang lain saya kira lebih mulia juga berpotensi amal jariyah. Tapi bagaimana dengan yang hanya mengumpulkan uang saja lalu membuat dirinya tampil mewah dengan segala harta bendanya? Tanggungan tidak ada tapi masih mengisi masa tua dengan terus mengejar uang dengan segala usaha kerasnya. Kalau sudah terkumpul banyak lalu buat apa?  Sepertinya repot sekali ya. Apa tidak lebih baik mengisi masa tua dengan mencukupkan diri karena tanggungan telah selesai? Kalaupun masih se...

Ha Long Bay - Vietnam

28 Oktober - 2 November 2017 berkesempatan berkunjung ke Vietnam. Tempat yang menjadi tujuan perjalanan adalah Ho Chi Minh dan Ha Long Bay. Sedikit berbeda dengan perjalaan yang sudah-sudah, entah kenapa serasa tidak terlalu istimewa perjalanan kali ini. Tidak seantusias ketika pertama kali turun pesawat menginjakkan kaki di Flores lalu malamnya berjalan kaki lumayan jauh dari penginapan dengan kondisi gelap gulita karena tak ada penerangan, itupun tak tau seberapa jauh tempat yang dituju juga tak tau kemana arah bermodal tanya, hanya untuk berburu makanan di pinggir pantai.  Yaa.. mungkin suatu saat bisa diulangi lagi versi serunya :)

Taman Wisata Alam Papandayan

21-22 Oktober 2017 . Papandayan banyak sekali yang berubah dari tahun lalu. Sekarang  sudah dikelola pihak swasta menjadi Taman Wisata Alam Papandayan. Ada gerbang besar menyambut untuk tiketing yang taun lalu cuma Rp7.500 sekarang menjadi Rp60.000. Jalan yang dahulu masih tanah berdebu sekarang diaspal, ada kolam renang, ada bangunan tinggi, ada tempat parkir luas dan ada kamar mandi di sepanjang perjalanan dan di setiap camp. Hanya opini saya saja, bagaimana kalau dipisah tiketingnya? Bagi pendaki mungkin tidak begitu peduli mau ada kolam renang atau gak karena hanya ingin naik Papandayan. Harga Rp 60.000 itu paling mahal setelah Gede Pangrango (ini juga kapok naik lagi, banyak "permainan duit" untuk administrasi, setidaknya dulu waktu saya naik). Lalu ada kamar mandi hampir disetiap perjalanan dan di camp? Gimana ya.. masa pagi-pagi subuh mau ambil air eh pada antre mandi di kamar mandi? Bisa sih dicari-cari alasannya misal pengunjungnya banyak lalu biar tetap...

Followers