Skip to main content

Posts

Dalam Pelukan-Mu

Sederhana saja. Jalan-jalan menikmati pemandangan lalu berhenti sejenak sekadar duduk-duduk dibawah matahari yang tak terlalu terik berpayung pohon rindang. Ditemani mp3 favorit melepas tanya yang sudah banyak menumpuk. Tak sepenuhnya melepas hanya memaklumi ketidakmampuan diri menjawab: Kenapa? Kenapa? Kenapa? Pepohonan dan hewan itu nampak damai. Ah masak? Bagaimana jika ternyata mereka saling membinasakan? Kenapa ada mekanisme pertahanan diri jika mereka hidup damai? Dan kenapa hal semacam itu dipertanyakan? Kenapa? Bukankah hal itu sudah mafhum? Seperti apa yang seharusnya? Kenapa menjadi tak sama padahal mendamaikan dan menyelamatkan? Ahh... Pada akhirnya lantunan ayat-ayat Al-Quran lah yang mengusir tanya... :)

Menunggu memahami

Beranjak dewasa (mungkin) semakin banyak hal yang saya pahami berbeda dengan pemahaman saya yang dulu untuk hal yang sama. Seperti ketika saya begitu menginginkan sesuatu lalu ada proses menunggu didalamnya yang justru disaat akhir malah berubah menjadi tak begitu penting juga tak lagi diinginkan. Juga ketika memahami ilmu, banyak sekali yang kemudian justru paham (mungkin) ketika beranjak dewasa hingga "Owalah ternyata gini to..."seakan ingin mengulang kembali jaman dahulu ketika tak begitu paham. Namun menunggu paham ini juga rasanya menyelamatkan. Setidaknya ketika mendapat ilmu yang "sensitif" tak langsung menerima hingga pada titik kepemahaman yang berbeda untuk mengambil langkah seperlunya (subjektif sih).  Uniknya ada juga pemahaman yang tidak berubah hingga sekarang. Dan momen itu saya ingat sekali seperti ketika: Masih SD kala itu mungkin kelas 4 saya sakit lalu diantar Ibu ke rumah sakit naik becak dan saya bilang "Ah paling kalo udah...

Perintah Agama vs Pemikiran

Serius dikit lah ya biar berisi blog ini :D. Kasus LGBT ini menjadi contoh yang baik untuk mengetahui pentingnya beragama dan membatasi "pikiran". Bagaimana beragam pendapat keluar, pro-kontra terhadap larangan LGBT. Alasan yang kontra banyak sekali misalnya:  - Cinta itu hak asasi manusia, kenapa harus dilarang, diatur? - Mereka juga tidak minta dilahirkan seperti itu - Gak kasihan apa? Coba kalau kamu dilarang jatuh cinta sama pacarmu? - dan lain sebagainya

Refleksi aneh

Penuh tanya tentang kondisi ane sekarang ini. Lebih tepatnya kondisi pemikiran, apakah ane itu "aneh" atau bagaimana?  Rasanya disaat lingkungan sekitar begitu sibuk dan serius membahas sesuatu sementara ane hanya menganggapnya sekadar "oh". Serius membahas kondisi bangsa yang begini begitu dan ane hanya "ah ane gak kompeten bahas gituan, bahaspun sekadar kata-kata nantinya". Ane jalan beberapa kali menemui gerombolan pemuda/pemudi karena pembicaraan mereka keras terdengar serius sekali bahas masalah "cinta", saling sahut saling menanggapi, sementara ane hanya "Ah bukan bahasan menikah, kemungkinan putus begitu besar, coba-coba, gak penting". Saat yang lain begitu menikmati lirik lagu sampai terbawa perasaan sementara saya dari dulu hanya menikmati nada-nada, rima irama atau apalah itu namanya tak peduli liriknya. Saat yang lain bahas kerjaan dan kondisi finansial masa depan sementara saya status di medsos saja masih "Wah...

Nonton KMGP

24 Januari, minggu malam yang entah kenapa menjadi terlalu membosankan berdiam diri di kamar kosan meski sedari pagi hingga sore sudah beraktivitas diluar kosan. Maka berangkatlah ane berburu kuliner, target ditentukan, Es Teller. Sesampainya disana terpikirkan rencana selanjutnya adalah nonton maka ane berbelok ke XXI. IP Man 3 ternyata sudah tidak tayang dan jadilah nonton Ketika Mas Gagah Pergi. Kesan KMGP. Ane rasa didalamnya menyajikan realita yang ada di masyarakat bahwa hal-hal yang berkaitan dengan agama jadi sekadar "ilmu jadi orang baik" atau "kisah nabi" dan sebagainya. Ia yang menjadi asing karena kebiasaan yang entah benar-salah-nya belum pasti. Ia menjadi bahan lelucon karena dianggap kuno. Ia terpisah dari bahasan kehidupan.  Barangkali karena ganjarannya tak terindera tak seperti ganjaran berupa materi yang langsung terasa. Tapi ada kalimat menarik, "Setelah belajar mendalami, disitu menemukan ketenangan, kebahagiaan yang sesungguhnya...

Cikuray 2821 mdpl

Yoo.. jalan-jalan awal tahun 2016! Ane diajak sama kawan mengawali tahun dengan pendakian ke Gunung Cikuray. Sebenarnya tak benar-benar mengwali tahun sih karena tanggal 1 Januari ane masih ngantor dan hampir pasti gagal naik karena ada kepentingan kantor. Namun Alhamdulillah gak jadi hehe... Entahlah apakah "Alhamdulillah" ungkapan yang baik atau tidak karena kewajiban tanggal 1 Januari itu ane sudah berusaha memenuhi sebisa mungkin tapi ada sebab diluar kuasa ane sehingga tergantikan oleh orang lain. Maka muncullah kesempatan pendakian ini.. :D Kesannya, seperti biasa kalau naik gunung itu gak ada jeleknya selalu ada spesialnya. Cikuray ini bisa menikmati kebun teh dibagian bawahnya dan untuk pemandangan selama perjalanan yang bisa dinikmati menurut saya ya setelah sampai puncak, karena sepanjang perjalanan hanya ditengah-tengah hutan. Jalur hampir seluruhnya naik, gak ada landai memutari bukit misalnya. Jadi dengan kecepatan santai kita tempuh perjalanan dari ...

Tujuan hidup

Ane bingung akan tujuan hidup sekarang. SD, SMP, SMA, Kuliah punya ending yang diusahakan. Bisa dilihat bisa dirasa dan terwujud juga terbatas waktu. Terbatas waktu inilah yang membuat tujuan itu terasa ketika diusahakan. Ada target.

Followers